Festival Kuasa Allah 7
15-16 September 2006, Pardede Hall, Medan
Baru kali ini saya bisa melihat suka duka menjadi peserta Mission Trip dari dekat. Waktu Festival Kuasa Allah di Manado tahun 2006, saya tidak ditempatkan satu hotel dengan mereka. Saya, tim multimedia dan PAW menginap di Formusa yang depan lobbynya tepat menghadap laut. Hotel tersebut dipilih karena dekat dengan Manado Convention Center.

Entah mengapa, untuk Festival Kuasa Allah ke-7 di Medan kali ini, saya bisa berada satu hotel di Grand Angkasa dengan 167 peserta mission trip tersebut. Saya bisa menikmati kesehatian, kebersamaan dan keakraban yang terjalin di antara mereka. Kebersamaan itu terlihat sejak saya tiba di bandara Juanda.

Antrian rombongan mission trip Mawar Sharon tampak dari kejauhan. Berdiri paling depan dan bertindak sebagai kolektor tiket adalah Ibu Mega, Bapak Joseph Nday dan Ibu Linda Yusak.Mereka mengatur boarding pass sekaligus mengurus bagasi para peserta dengan sangat cepat. Sebuah kerja sama tim yang terbentuk tanpa koordinasi atau rapat.

Kami sangat diuntungkan dengan kerelaan Ibu Mega dan Ibu Linda Yusak berdiri berjam-jam di depan counter City Link Garuda Indonesia tersebut. Mereka berdua mengurus pergantian tiket dari Surabaya ke Batam dan Batam ke Medan - begitu juga sebaliknya ketika pulang - dengan sangat baik. Kalian berdua hebat! Tanpa kerendah-hatian kalian berdua tidak mungkin kami bisa berangkat tepat waktu saat itu!

Yang paling mengesankan adalah ketika salah satu bis yang kami tumpangi mogok ketika baru beberapa menit keluar dari bandara Polonia Medan. Mereka terpaksa mendorong bis tersebut supaya bisa kembali berjalan dan mengantar mereka ke hotel. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Sorenya para peserta berangkat ke Pardede Hall dengan bis yang sama. Di sana tugas sudah menunggu mereka.

Saya melihat lautan merah dan biru yang menyolok di tengah kegelapan Pardede Hall, tempat Festival Kuasa Allah diselenggarakan. Lautan manusia berrompi merah bertuliskan "Counselor Festival Kuasa Allah" dan kerumunan manusia berrompi biru bertuliskan "Usher Festival Kuasa Allah". Mereka mengatur arus kedatangan jemaat yang membanjiri area Pardede Hall.

Seperti biasa saya berkeliling, berbaur dengan orang sakit dan keluarga yang membawa mereka. Saya senang melihat ekspresi pendoa ketika meyakinkan orang yang sakit bahwa Yesus sanggup menyembuhkan sakit mereka.

Saya selalu dibuat tertegun karena kagum kepada semangat para pendoa atau tim seleksi FKA yang berusaha membangkitkan iman orang yang sakit dengan cara yang sangat tidak biasa. Mengapa saya sebut tidak biasa? Karena mata jasmani saya melihat orang lumpuh yang dipaksa memakai kakinya untuk berjalan dan meninggalkan kursi roda atau tongkat mereka. Sementara di sisi lain mata rohani saya seperti diperhadapkan dengan iman para pendoa yang yakin bahwa cara itu sanggup mengetuk hati Tuhan dan melahirkan mujizat kesembuhan!

Tetapi, saya sering dipaksa oleh Tuhan untuk mengakui bahwa iman dan keyakinan yang tak biasa seperti itulah yang membuat Tuhan berkenan menyembuhkan sakit penyakit dan mengembalikan anak yang terhilang kepada Bapanya. Saya yakin iman yang tak biasa itu yang membuat seorang ibu yang lumpuh menangis tanpa bisa berkata apa-apa. Ia bisa berjalan karena ia memakai imannya dan iman yang tak biasa dari para pendoa!

Dari mana datangnya keberanian untuk menggerakkan kakinya dan meninggalkan kursi rodanya, bila bukan datang dari para pendoa yang terus menerus menyemangatinya untuk berdiri dan berjalan? Tidak ada yang lebih hebat di FKA selain melihat susah payah mereka yang rindu melihat seorang ibu yang gendang telinganya pecah sehingga mengakibatkan ia tidak bisa mendengar, maju ke depan dan bersaksi bahwa ia bisa mendengar kembali.

Mujizat penciptaan seperti yang Pastor Philip nubuatkan terjadi atas ibu tersebut! FKA kali ini saya melihat banyak orang lumpuh dan mengalami kelemahan di kaki disembuhkan oleh Tuhan. Percaya atau tidak, itu jawaban doa saya!

Saya ingin FKA kali ini Tuhan membuat perkecualian. Saya ingin menyaksikan puluhan orang sakit fisik disembuhkan oleh Tuhan! Mengapa saya meminta hal tersebut? Karena jarak antara Surabaya dan Medan terlalu jauh untuk ditempuh bila saya ingin menulis secara akurat (dalam arti ada medical check up dari dokter atau lab) tentang kesembuhan mereka.

Bagi saya, jauh lebih mudah bila saya menulis tentang orang lumpuh berjalan, tuli mendengar atau bisu bicara daripada menulis kesaksian tentang orang yang sakit kanker disembuhkan Tuhan. Disembuhkan secara fisik tidak perlu pembuktian dokter atau medical check up! Dan malam itu plus malam berikutnya Tuhan mempermudah pekerjaan saya. Apa yang saya inginkan dibuat Tuhan terjadi dalam dua malam di FKA! Benar-benar mengesankan! Hati saya terharu ketika melihat hal sederhana pun - yang menurut saya sangat bersifat pribadi - dijawab oleh Tuhan.

Saya melihat tongkat, kursi roda, alat bantu untuk penderita stroke atau pasien lumpuh belajar berjalan dan kruk ditinggalkan di atas panggung oleh pemiliknya! Terpujilah Tuhan!

Alasan itu jugalah yang membuat saya mengejar seorang penderita tuli yang disembuhkan Tuhan di hari kedua FKA. Telinga kirinya tiba-tiba bisa menangkap suara. Ia memberitahu kakak perempuannya yang duduk di sampingnya dengan bahasa isyarat. Ada banyak penyakit fisik yang disembuhkan Tuhan malam itu dan malam berikutnya. Semua itu terjadi bukan karena iman satu orang, tetapi karena iman satu tim.

Saya yakin doa dan puasa seluruh jemaat, juga dukungan yang ditunjukkan oleh para peserta mission trip, tim multimedia, tim PAW, tim pendoa dan tim konselor serta tim usher - gabungan tim Surabaya dan Medan - turut menciptakan tiap detil peristiwa ajaib yang terjadi di sana.

Semuanya dipakai Tuhan dengan cara yang unik untuk saling melengkapi. Saya masih ingat cerita Tante Erwin tentang putranya, Pak Adrian, yang baru pulang dari mengurus dokumentasi dan hal-hal lain sekitar jam 02.00 WIB dan terpaksa tidak tidur karena jam 04.30 WIB harus berangkat ke bandara Juanda menuju Medan. Saya juga masih ingat bagaimana Pak Djoni dan Pak Adrian harus bolak-balik ke GMS pusat untuk rapat FKA.

Masih membekas di ingatan saya bagaimana Pak Welly dan Pak Lianggono mengatur Usher. Bahkan para usher ini rela meluangkan waktu luangnya di hari Sabtu untuk rapat supaya pada saat FKA ditayangkan via Parabola ke seluruh Asia, semuanya berjalan lancar sesuai rencana.

Saya juga masih ingat dengan sebuah peristiwa yang mungkin tidak akan pernah terulang kembali di acara apapun yang diadakan oleh GMS! Untuk kedua kalinya salah satu bis yang ditumpangi peserta mission trip kembali mogok seusai FKA (mereka hendak ke Restoran Nelayan untuk makan malam).

Mereka terpaksa datang ke restoran dengan naik taksi atau becak motor. Pulangnya, tidak mungkin sebagian peserta naik bis tersebut lagi. Jadi, kami sepakat untuk mendahulukan orang yang lebih tua di bis dan mobil yang disediakan panitia. Sementara yang lebih muda usianya dianjurkan untuk menunggu atau pulang dengan taksi atau kendaraan umum.

Di luar dugaan kami, Pastor Philip menaiki angkutan umum bersama peserta mission trip yang lain. Padahal panitia sudah menyediakan mobil khusus untuk mengantarnya ke hotel dan beristirahat. Wah, FKA kali ini memang penuh kejutan yang tak kan terlupakan! Saya tidak akan pernah melupakan semua detil peristiwa bersama mereka! Sebuah team work yang hebat dan rendah hati. Mereka saling melayani dan mendahulukan orang lain.

Yang paling menyentuh hati saya adalah pernyataan seorang bapak yang bertugas sebagai usher. Di bis yang membawa kami ke Pardede Hall, ia berkata sambil tersenyum: "Lebih baik jadi pemain yang jelek daripada jadi penonton yang baik..." Ia benar!
(Diceritakan oleh Ribkah M.H)